اهلا و سهلا

Minggu, 23 Oktober 2011

التقية


 
 TAQIYYAH 

DISUSUN OLEH AGY JOSEP

Jakarta 2011



Bab 1
Latar belakang
Yang melatar belakangi saya mnyusun makalah tentang taqiyah ini yaitu saya ingin mengetahui apa sebenarnya taqiyah itu yang menurut sebagian orang taqiyah itu adalah kebohongan dan kemunafikan sedangkan taqiyah menurut imam jafar  shadiq as dalam wasailussyiah yaitu sebagai perisai orang mumin dan sesuatu yang menjaga dia.sedangkan kafirun munafikun berusaha memasukan konsep taqiyah dalam islam seraya berkoar-koar”Hei lihatlah umat islam penuh dengan kebohongan dan kemunafikan jelas sudah bahwa taqiyah bukan berasal dari islam dan siapa yang penuh dengan kemunafikan dan bermuka  dua dengan taqiyah”.

Bab ll. Pembahasan
Taqiyah dalam Perspektif Ulama Islam
 Allah swt  berfirman, “Janganlah orang-orang Mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang Mukmin.Barangsiapa berbuat demikian, erniscaya lepaslah dia dari pertolongan Allah kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, .(Q,s al Imran:28)




Dan dalam surat lain juga allah swt  menegaskan:
Barangsiapa yg kafir  kepada allah setelah dia beriman(dia mendapat kemurkaan allah),kecuali orang yg dipaksa kafir padahal hatinya  tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa),tetapi orang yg melapang  kan dadanya untuk kekafiran,maka kemurkaan allah
menimpany adanmerekaakandapatazabygbesar(Q,s an-nhl:106)
Adapun pendapat ulama imamiyah mereka menunjukan terhadap di perbolehkannya taqiyah yakni di dalam wasailussyiah dalam sebagian riwayat yang di antara nya sebagai berikut;
1.      Dari abi yafur,dari abi abdillah as berkata kepada nya: taqiyah adalah perisai orang mukmin, dan sebagai sesuatu yang menjaga dia.
2.      Dari Imam Ali a.s berkata: Taqiyah adalah perbuatan yang lebih utama bagi seorang mukmin yang dengan taqiyah itu dia melindungi dirinya dan saudara-saudaranya dari gangguan orang-orang kafir dan selainnya.

Pendapat para mufasir tentang ayat ini sudah cukup jelas dan tidak memerlukan penjelasan lagi.
I. Ath- Thabari berkata, “. ..kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. “ Abu al-‘A1iyah berkata, “ Taqiyah itu dalam lisan, bukan dengan perbuatan.” Diriwayatkan dari al-Hasan: Saya mendengar Abu Mu’adz berkata: ‘Ubaid mengabarkan kepada kami. ia berkata: Saya mendengar adh-Dhahak berkata tentang firman Allah, “kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka,” “Taqiyah dalam lisan adalah orang yang dipaksa untuk mengucapkan sesuatu yang merupakan ke maksiatan kepada Allah. La mengucapkannya karena takut akan ditimpakan bahaya pada dirinya“… padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan…, maka ia tidak berdosa. Sesungguhnya taqiyah itu dalam lisan
.
2. Az-Zamakhsyari ketika menafsirkan firman Allah SWT: … kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka…berkata, “Yaitu keringanan bagi mereka di tengah muwaltat apa bila takut kepada para penguasa mereka. Yang dimaksud dengan muwalat adalah perbedaan dan pergaulan secara lahiriah. Sedangkan hatinya teguh dalam permusuhan dan kebencian, dan menunggu hilangnya rintangan”
.
3. Ar-Razi, ketika menafsirkan firman Allah SWT: …kecuali karena memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka…,berkata, “Masalah keempat Ketahuilah, bahwa taqiyah memiliki banyak ketentuan. Kami akan menyebutkan sebagiannya sebagai berikut:
a. Taqiyah hanya dilakukan apa bila seseorang berada di tengah kaum yang kafir, dania takut mereka akan menimpakan bahaya terhadap diri dan hartanya. Maka ia bersikap halus kepada mereka dalam ucapan, yaitu tidak menampakkan permusuhan dalam ucapan. Bahkan ia juga boleh menampakkan ucapan yang menunjukkan kecintaan dan kesetiaan.
” Akan tetapi, dengan syarat menyembunyikan sikap sebaliknya dan mengingkari setiap kata yang diucapkannya. Taqiyah itu memiliki pengaruh pada lahir, bukan dalam hati
.
b. Taqiyah itu dibolehkan untuk memelihara diri. Apakah taqiyah juga boleh dilakukan untuk memelihara harta? Kemungkinan hal itu diperbolehkan berdasarkan sabda Rasulullah sawKemuliaan harta seorang Muslim adalah seperti kemuliaan darahnya”.Juga sabdanya: “Barangsiapa yang terbunuh dalam membela hartanya, ia mati syahid.”
Demikianlah yang diketahuidiawalIslam ,kemudiandatanglahkaumNashibi, mereka mengharamkannya dengan membabi buta karena praktek Taqiyah telah menyulitkan para Zalim (nashibi) untuk mengetahui siapa sesungguhnya para Pengikut (Syi’ah) Ahlil Bait itu.
Azbabun Nuzul  Surah Al-Mā`idah : 55-56
55 Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah ,Rasulnya dan orang-orang yg beriman,yg melaksanakan shalat dan menunaikan zakat,seraya tunduk (kepadaallah)
 56 Dan barangsiapa menjadikan Allah,Rasulnya dan orang-orang yg beriman sebagai penolongnya, maka sungguh,pengikut (agama)Allah itulah yg menang.
Taqiyah :Kebohongan Dan Kemunafikkan !!!
Alhamdulillah segala puji  bagi Allah Subhanahu Tabaroka WaTa’ala yang telah memberi anugerah  Iman dan Islam kepada kita. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta para pengikutnya.
Sungguh,,, ketika tersesat pada site-site para penghujat  Islam, aneh rasanya mereka para kafirun munafiqun menganggap umat Islam pun pandai menjadi bunglon, mereka menganggap konsep ” taqiyah” (menyembunyikan ke imanan) berasal dari Al Qur’an.  Hasilnya sungguh mengejutkan.
sebuah riwayat yang dinisbahkan kepada Imam Abu Ja’far Ash-Shadiq as. berkata :Taqiyah adalah agama ku dan agama bapak-bapaku. Seseorang tidak dianggapberagama bila tidak bertaqiyah.”






    Untuk mempelajari sifat-sifat orang-orang munafiq dalam sepanjang sejarah, setidaknya kita bisa melakukan search dalam Al Qur’an dengan kata kunci “munafiq/ munafik”.  Atau lakukan proses pengambilan dalil, Berikut kami ambil 2 ayat yang mungkin bisa mewakili dari sifat inti kemunafikkan : Lain di mulut, lain di hati.
Dan apabila orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka mengatakan: "Kami telah beriman", padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya dan mereka pergi (dari pada kamu) dengan kekafirannya (pula); dan Allah lebih mengetahu  siapa yang mereka sembunyikan. (QS Al Maidah : 61)

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu [*]. Mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya)

    Diakui atau tidak, kita tidak bisa menghindari fitnah-fitnah mereka, dan ironisnya kita tanpa sadar terkadang turut andil menyebarkan makar-makar mereka. Kita terkadang menelan mentah aja setiap informasi yang  bersinggungan dengan dunia Islam tanpa usaha melacak, menganalisa sumber beritanya. Yang setingkat hadits saja bisa dipalsukan, apalagi yang setingkat atsar (segala sesuatu yang disandarkan pada ucapan atau perbuatan sahabat, misal ucapan sayyidina Ali bin Abi Thalib karomallahuwajha) Apalagi yang cuman setingkat “berita dunia Islam” yang berlalu lalang di dunia maya, amat sangat rawan kebohongan.Baca, selidiki, analisa sesuai kemampuan.

Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong [*] dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu [**]; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah,  dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah. " Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatu pun (yang datang) dari pada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS Al Maidah : 41)





Kesimpulan :
  1. Kita harus bisa membedakan antara taqiyah dan kebohongan atau kemunafikan yaitu dengan mencari dalil yang tidak diragukan lagi kebenarannya supaya tidak menjadikan kita yang menerima suatu berita yang mentah saja.
  2. Dimasa Baginda Rasulullah s.a.w para munafiq berhasil membuat kegemparan dengan kisah(berita bohong) mengenai sayyidatina ‘Aisyah. Hal ini diabadikan dalam QS An Nur : 11-20
Sesungguhnya orang-orang yg membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu(juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu, setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari apa yg di perbuatnya.dan barangsiapa di antara mereka yang mengambi lbagian yang terbesar (dari dosa yang di perbuatnya). dia mendapat  azab yg besar (pula).(Qs. an-nur:11)
  1. Konsep “taqiyah” sengaja disusupkan kafirun munafiqun, usaha menyusupkan konsep tersebut sama kerasnya dengan usaha menghujat dan memfitnah bahwa umat Islam bermuka dua dengan “taqiyah”.  Kafirun – munafikun berusaha memasukkan "taqiyah" dalam Islam seraya berkoar2  "Hei, lihat... umat Islam penuh kebohongan !!!". Jelas sudah bahwa “taqiyah” bukan berasal dari Islam, dan siapa yang penuh dengan kemunafikkan ?
  2. taqiyah itu adalah untuk menjaga dan sebagai perisai untuk diri dan saudara-saudaranya baik itu dari gangguan orang-rang kafir dan selainnya.




Daftar Pustaka:

At-Tashīl li ‘UlūmitTanzīl, karya Al-Kalbi, juz 1, hal. 181.
 Al-Kasysyāf,karyaAz-Zamakhsyari, juz 1, hal. 649.
 TafsirAth-Thabari, juz 6, hal. 288-289.
Tafsir Al-Munīr li Ma’ālimitTanzīl, Al-Jawi, juz 1, hal. 210.
ZādulMashīrfī ‘IlmitTafsīr, IbnJauzi AI-Hanbali, juz 2, hal. 383.
FathulBayānfīMaqāshidilQurān, juz 3, hal. 51.
Tafsir Al-Jalālain, hal. 213.
Yanābī’ulMawaddah, karya Al-Qundusi, hal. 115, cetakanIstambul; hal.135, cetakan Al-Haidariyah.
TafsirFakhurRazijuz 12 hal.26 dan 20, cetakan Al-Bahiyah, Mesir; juz 3, hal.431, cetakan Ad-Dar Al-’Amirah, Mesir.
Tafsir IbnuKatsir, juz 2, hal. 71, cetakan Dar Ihya’ Al-Kutub.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Aqal merupakan suatu yang esensial bagi seseorang

قال رسول الله  صلى الله عليه و اله و سلم
"قوام المرء  عقله,  ولا دين لمن لا عقل له  "
Rasulullah saw bersabda, "Penegak (pemimpin seseorang adalah aqalnya, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak beraqal."
اهلا و سهلا

istighfar suatu jalan yang pasti untuk bertaubat

قال رسول الله  صلى الله عليه و سلم

" اكثروا من الاستغفار فان الله عز و جل لم يعلمكم الاستغفار الا و هو يريد ان يغفر لكم "

Rasulullah saw bersabda, "Perbanyaklah beristighfar! sesengguhnya Allah Ta'ala tidak akan mengajarkan istighfar kepada kamu kecuali Dia akan mengampuni kamu."


قال رسول الله  صلى الله عليه و سلم
"خير الدعاء الاستغفار "

Rasulullah saw bersabda, "Sebaik- baiknya do'a adalah istighfar"




diterjemahkan dari Mizanul Hikmah

Jumat, 21 Oktober 2011

Tafakkur sebagai induk dari setiap "ibadah"

التفكر
Bismillahi rahmanirahim
Alhamdullah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin
Nahmaduhu, wa Nasta’ȋnuhu bish shabri  wash shalah
Wa Nastaghfiruhu, wa Na’ûdzu billahi min Syurûri Anfusinâ
Wa min sayiâti a’mâlinâ
Ashalâtu was salâmu ‘alâ asyrafil anbiyâ’ȋ wal Mursalȋn,
Sayyidil wujûd, sayyidinâ, wa habȋbinâ, wa syâfi’inâ, wa maulânâ
habȋbil Mushthafâ abil Qâsim Muhammad

          Tafakkur  secara etimologi berarti memikirkan, merenungkan, atau berpandangan tentang sesuatu.
          Secara terminology yang dapat diambil dari salah satu ulama shufȋ yaitu Syeikh ‘Abdur Rhaman as Sallimȋ, beliau mengatakan bahwa tafakkur itu adalah
          pikiran atau renungan terhadap amal perbuatan. baik itu yang dapat kita sadari,maupun yang tidak kita sadari,
 Memikirkan keta’atan kita, sudah sampai di mana ketaatan kita pada Allah apakah sudah sampai pada titik yang kita dan Allah inginkan ataukah kita masih memikirkan imbalan (surga) yang akan diberikan oleh Allah Ta’ala ketika kita sudah merasa ta’at kepada Allah Ta’ala.
Kemudian kita memikirkan ma’shiat yang telah kita perbuat. Bahwasannya sudahkah kita sadari maksiat apa yang telah kita perbuat dan sudahkah kita mohon ampun pada dzat yang maha suci atas dosa kita tersebut. Kemudian setelah kita memikirkan seluruhnya maka kita harus memperbaiki seluruh perbuatan kita dari maksiat yang kita lakukan insya allah dengan hal tersebut perbuatan kita akan bersih dan suci.

          Tafakkur merupakan suatu ibadah yang sangat utama dari ibadah- ibadah yang lain. Sebagaimana dalam dalam wasiat imam Hasan as bahwasannya beliau berkata,
اوصيكم بتقوي الله و ادامة التفكر,  فان التفكر ابو كل خير و امه
“Sesungguhnya aku mewasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala, dan selalu bertafakkur. Karena sesungguhnya tafakkur itu merupakan ayah dan ibu dari seluruh kebaikan.”
         
          Dari hadis yang telah disebutkan tadi dapat kita ambil kesimpulan bahwa betapa pentingnya bertafakkur yang mana tafakkur tersebut merupakan induk atau sumber dari segala ibadah. Pemahaman ini diambil dari lafazh abu kulli khairin wa ummuhu.
          Hal itu juga ditunjukkan dalam hadis Ja’far as.
التفكر ساعة خير من عبادة سنة
“Tafakkur sesaat itu lebih baik dari ibadah selama setahun.”
          Hadis tersebut semakin menunjukkan betapa tingginya keutamaan tafakkur

          Mengapa tafakkur tersebut dikatakan sebagai induk dari ibadah- ibadah dan lebih daik dari seluruh ibadah. Karena dengan tafakkur akan lahir beberapa kunci yang digunakan dalam setiap ibadah dan perbuatan.
          Sebagaimana dalam tafakkur memiliki tingkatan- tingkatan yang berbeda yang mana dengan itu akan lahir kunci ibadah yang telah disebutkan tadi. Menurut Imam Muhammad Mâdhi abu Al ‘Azâ’im beliau adalah salah satu ulama shufi, beliau berpendapat bahwa tafakkur memiliki 5 tingkatan yaitu:
          Pertama tafakkur  pada ayat- ayat Allah yaitu tafakkur dan merenungkan tentang tanda- tanda kebesaran tuhan. Mulai dari ciptaannya yang ada di bumi hingga yang ada di langit, bagaimana proses penciptaannya, apakah dia ada dengan sendirinya atau secara alami seiring dengan berputarnya waktu ataukah semuanya ada sebab yang mewujudkannya, apakah yang mewujudkannya itu merupakan dzat yang berdiri sendiri ataukah dia juga bergantung pada selainya serta renungan pada tanda- tanda yang lain. Beliau mengatakan bahwa dengan tafakkur terhadap hal tersebut akan lahir ma’rifah kepada allah sebagaimana kita ketahui bahwa ketika kita beribadah tanpa mengetahui kepada siapa kita beribadah dan seperti apa dzat yang maha suci tersebut maka akan sia- sia saja  ibadah tersebut.
          Kedua tafakkur terhadap kebahagiaan dan nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita. Yaitu dengan merenungkan seluruh nikmat yang telah diberikan sudahkah kita mensyukurinya, sudahkah kita gunakan dengan baik hingga dapat bermanfaat bagi orang lain. Beliau mengatakan bahwa dengan tafakkur terhadap nikmat tersebut akan lahir mahabbah dengan lahirnya mahabbah ini kita akan semakin cinta kepada Allah Ta’ala dan ingin selalu dekat dengan-Nya. Bahkan kita akan selalu mencintai seluruh makhluk Allah karena seluruhnya itu merupakan manifestasi dari wujud Allah.
          Kemudian yang ketiga tafakkur pada janji Allah, dan pahala yang akan diberikan bagi orang yang layak mendapatkannya. Yaitu dengan merenungkan apakah kita pantas untu mendapatkan janji tersebut dengan kualitas penghambaan kita yang sekarang ini, dengan keadaan diri kita yang seperti ini apakah memungkinkan untuk memperoleh pahala yang dijanjikan tersebut ataukah justru sebaliknya kita akan jatuh tersungkur kedalam siksa yang sangat pedih akibat perbuatan kita. Muhammad Madhi berkata bahwa dengan bertafakkur terhadap hal tersebut akan lahir ar raja’(harapan) dengan lahirnya ar raja’ dalam diri kita maka kita akan selalu ingin mendekatkan dri kepada Allah dan berbuat yang terbaik agar kita menjadi salah satu manusia yang layak untuk mendapatkan janji Allah yang sangat besar dan mulia tersebut.
          Kemudian yang keempat bertafakkur pada adzab yang akan diberikan kepada orang yang bermaksiat kepada Allah. Yaitu dengan merenungkan siksaan yang akan didapatkan bagi yang bermaksiat, yang ingkar terhadap perintahnya. Dengan merenungkan adzab tersebut akan lahir al khauf. Dengan lahirnya Al Khauf tadi maka kita akan senantiasa berupaya untuk tidak jatuh dan terjerumus dalam hal- hal yang dapat menjadikan kita sebagai orang yang menentang perintah Allah dan yang berbuat pada-Nya hingga mewajibkan kita untuk merasakan kepedihan adzab-Nya  yang pedih.
          Kemudian tingkatan yang terakhir yaitu yang kelima tafakkur pada ketulusan dan keikhlasan diri berbarengan dengan kebaikan Allah Ta’ala pada diri kita. Yaitu dengan merenungkan keikhlasan kita terhadap Allah Ta’ala, apakah dalam proses penghambaan kita pada-Nya kita benar- benar menyadari bahwa Dialah yang maha suci dari segalanya dan patut disembah, ataukah kita melakukan penyembahan kepada-Nya hanya karena semata- mata kenikmatan yang dijanjikan oleh-Nya ketika kita melakukan ibadah. Karena perlu diketahui bahwa apalah artinya hidup kita di hadapan Allah kita hanya seperti sebutir pasir yang ada di tengah padang pasir yang luas, Dialah yang memberikan kenikmatan kepada seorang hamba tanpa mengharapkan balasan dari hambanya tersebut.
Lantas apakah kita akan menyembah-Nya hanya mengharapkan nikmat yang akan diberikan kelak tidak cukupkah kita dengan nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita, pernahkah kita berpikir masih banyak orang yang kualitas spritualnya jauh lebih baik disbanding kita yang benar- benar tulus menyembah Allah karena dia menyadari bahwa dia adalah seorang hamba yang sangat kecil disbanding Allah. Sementara kita dengan kualitas spiritual yang seperti ini masih juga tidak menyadari hal tersebut? Maka dengan merenungkan hal tersebut akan lahir al haya’ yaitu kita malu dengan keadaan kita sekarang dengan segala nikmat yang telah diberikan tapi kita seolah- olah tidak merasakan semuanya. Dengan demikian kita akn senantiasa malu dengan diri sendiri terhadap Allah yang Maha Pengasih dan akan mencoba selalu ikhlas dalam beribadah.
         
          Dengan demikian telah jelas bahwa betapa besarnya makna tafakkur. Sebagaimana ungkapan dalam kitab mizanul hikmah
لا عبادة كالتفكر
“Tidak ada lagi ibadah seperti tafakkur”
          Ungkapan ini menunjukkan betapa tinggi keutamaan tafakkur dibanding ibadah yang lain.

           

Imam Ash Shadiq alaihissalam

قال الامام الصادق  عليه السلام

"كونوا دعاة صامتين"

"Jadilah kalian da'i- da'i yang diam"

Kamis, 20 Oktober 2011

Hadits- hadits A'immah 'alaihimussalam


قال الامام الصادق عليه السلام
  
معاشر الشيعة,  كونوا لنا زينا و لا تكونوا علينا شينا,  قولوا للناس حسنا,  وحفظوا السنتكم  و كفواها عن الفضول و قبيح القول



Imam Ash Shadiq as berkata, "Wahai para pecinta kami! hendaknya kalian menjadi hiasan bagi kami, dan janganlah kalian menjadi 'aib bagi kami, berkatalah pada manusia dengan perkataan yang baik. jagalah lidah- lidah kalian dan hindarkanlah lidah- lidah tersebut dari kata- kata yang berlebihan dan kata- kata yang buruk!"

قال الامام علي عليه السلام

الكلام كالدواء,  قليله ينفع  و كثيره قاتل "


Imam 'Ali as berkata, "Ucapan itu ibarat obat, jika sedikit (sesuai kadar) maka akan bermanfa'at. dan jika berlebihan (melebihi kadar) maka akan mematikan."


sumber Mizanul Hikmah